Hari sabtu kemarin, 20 Juni 2009, TK-nya Alya mengadakan acara family outbond dan akhirussanah. Acara ini diadakan di Tlatar. Mamanya Alya ngga bisa ikut karena sedang ada visitasi akreditasi Jurusan Fisioterapi FIK-UMS. Jadi, aku sorangan yang menemani Alya di acara itu.
Acara itu diawali dengan famili outbond. Di acara itu anak dan ortu jadi satu tim yang berlomba memperebutkan/mencari star di tiap pos. Sebelum mencari star tersebut, tim-tim di tiap pos harus berlomba adu cepat melakukan sesuatu yang berbeda-beda di tiap pos. Hasilnya: aku dan Alya ngga dapat satu star pun. Alya terlihat agak kecewa tapi ngga ngambek. Satu perubahan yang cukup mencolok dibanding satu-dua tahun lalu: sedikit-sedikit kalo kecewa ngambek.
Di acara akhirussanah, diumumkan juara-juara kelas untuk masing-masing kelas. Alya masuk nominasi juara untuk kelas madinah bersama dengan Ifah dan Sehan. Juaranya ternyata Sehan. Ketika di acara Alya tidak tampak kecewa karena ngga juara. Tapi, di rumah sempat terlontar ucapan "Wong aku ngga juara, kok!" dengan mimik ngambek. Ketika itu sebenarnya aku, Alya dan Mamanya sedang berbicara hal yang ngga ada sangkut pautnya dengan acara akhirussanah. Mendengar ucapan itu aku langsung buru-buru memberi komentar untuk "mengobati luka" dan mengembalikan konsep dirinya yang positif. Aku katakan bahwa dia hebat dan juara karena masuk nominasi bersama Ifah dan Sehan. Hampir saja konsep diri positif yang susah payah aku bangun pada diri Alya runtuh oleh juara-juaraan itu.
Aku sendiri ngga setuju dengan pengumuman juara-juara itu. Lebih banyak madhorotnya ketimbang manfaatnya. Meskipun maksudnya baik, yaitu memberikan penghargaan pada yang berprestasi (satu orang), tapi menyisakan luka di hati anak-anak lain, karena pemberian penghargaan kepada satu anak itu bisa ditangkap sebagai pengabaian terhadap anak-anak yang lain. Dan, itu bisa menimbulkan tumbuhnya konsep diri yang negatif pada anak-anak lain. Kata orang, hati anak-anak polos itu lebih sensitif dari pita kaset.
Kebetulan di SD yang bakal dimasuki Alya (SDII Al Abidin) dikembangakan paradigma bahwa setiap anak itu adalah cerdas dan punya kelebihan di bidang tertentu. Apa istilahnya? Multiple intelegence? Pokoknya gitulah. Jadi, di situ nanti ngga diadakan ranking atas pencapaian prestasi akademik kumulatif. Melainkan, setiap anak akan digali bakat dan kecenderungan intelejensinya untuk kemudian ditonjolkan dan jadilah setiap anak itu sebagai "the best" di lingkup bakatnya masing-masing.Aku pikir aku lebih cocok seperti itu, deh.
Anyway, di acara akhirussanah itu saya belum sempat mengucapkan kata-kata perpisahan dan terima kasih kepada kakak-kakak pengasuh di Darusssalam karena ketika acara berpamitan dan bersalaman ibu-ibu, kakak-kakak pengasuh dan anak-anak pada nangis. Lha, aku ni paling ngga tahan kalo acara tangis-tangisan begitu: aku ikut mbrebes mili, terharu dan berlinang air mata. Jadinya, ngga bisa ngomong apa-apa. Takut tambah nangis. Akhirnya, di rumah aku minta Mamanya Alya untuk ke TK hari Seninnya untuk pamitan dan mengucapkan terima kasih.
Thursday, June 25, 2009
Sunday, May 17, 2009
Alya mau cabut gigi
Beberapa hari yang lalu Alya ngasih tau aku dan istriku kalo giginya tumbuh lagi. Ketika dicek ternyata gigi baru itu tumbuh di belakang gigi lama dan tumbuh miring ke arah dalam rongga mulut. Jadi, hari ini rencananya gigi itu akan dicabut atau diperiksa trus gimana saran dokter nantinya.
Tapi aku ngga bisa ngantar karena harus jaga praktikum dari pagi sampai sore. Akhirnya istriku yang akan menjemput Alya di TK dan mengantarkannya ke dokter gigi di MMC jam 12.
Alya sepertinya senang dengan rencana tsb. Karena, dengan begitu berarti dia dijemput siang. Alya ngga takut pergi ke dokter, baik dokter umum (spesialis anak) maupun dokter gigi. Pernah dia diperiksa dokter THT, telinganya dibersihkan, dia tenang-tenang saja ngga rewel. Juga, beberapa kali diimunisasi, disuntik untuk diambil darahnya juga ngga nangis. Aku selalu memuji dia karenanya dan dia senang dipuji begitu. Aku memang ngga pelit pujian kalo memang dia pantas dipuji. Maksudku agar dia punya konsep diri yang positif, percaya dan bisa menghargai diri sendiri. Ngga apa-apa kalo terus jadi agak narsis. Daripada minder.
Tapi aku ngga bisa ngantar karena harus jaga praktikum dari pagi sampai sore. Akhirnya istriku yang akan menjemput Alya di TK dan mengantarkannya ke dokter gigi di MMC jam 12.
Alya sepertinya senang dengan rencana tsb. Karena, dengan begitu berarti dia dijemput siang. Alya ngga takut pergi ke dokter, baik dokter umum (spesialis anak) maupun dokter gigi. Pernah dia diperiksa dokter THT, telinganya dibersihkan, dia tenang-tenang saja ngga rewel. Juga, beberapa kali diimunisasi, disuntik untuk diambil darahnya juga ngga nangis. Aku selalu memuji dia karenanya dan dia senang dipuji begitu. Aku memang ngga pelit pujian kalo memang dia pantas dipuji. Maksudku agar dia punya konsep diri yang positif, percaya dan bisa menghargai diri sendiri. Ngga apa-apa kalo terus jadi agak narsis. Daripada minder.
Subscribe to:
Comments (Atom)